Ngerjain Proyek TI Atau Dikerjain Client?

Pada era digital jaman sekarang itu apa-apa serba dimudahkan dan kedepannya pasti bakalan akan lebih canggih lagi, coba deh temen-temen cek apa yang dulunya agak ribet sampai ribet tetapi sekarang menjadi mudah, aku kasih contoh deh dibidang transportasi dulu pesan tiket pesawat atau kereta harus di loket-loket resmi atau di tempat-tempat pelayanan yang lainnya misal biro perjalanan, tetapi sekarang temen-temen bisa pesan tiket pesawat atau kereta dari hand phone atau komputer temen-temen, kan itu termasuk mudah to rek gak perlu repot-repot keluar rumah apalagi kalau jalanan macet, hmm hemat ongkos, hemat waktu dan masih banyak lagi lho contoh yang lainnya.

Semua itu tak lepas dari perkembangan teknologi dan juga perkembangan pola pikir dari penyedia layanan/jasa yang beralih kepada pola pikir pelayanan berorientasi pelanggan atau bahasa kerennya Customer Oriented. Mau tidak mau penyedia layanan/jasa harus berpikir dan bekerja keras dalam membuat produk-produknya menjadi menarik dan mempunyai nilai tambah, dan sentuhan teknologi/teknologi informasi (TI) kerap menjadi solusinya. Lha terus apa hubungannya dengan proyek cak? ya ada donk, biasanya perusahaan perusahaan tersebut akan menyerahkan urusan TI nya itu kepada pihak ketiga atau outsource rek dalam bentuk proyek gitu.

Temen-temen yang berkecimpung di duni TI pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah freelance, yaitu bekerja secara lepas yang berarti tidak bekerja secara tetap di perusahaan tertentu. Buat para frelancer (sebutan untuk pekerja lepas biasanya sering digunakan untuk para pekerja TI) yang sudah memiliki jam terbang tinggi, mereka akan lebih selektif dalam menentukan proyek yang akan dikerjakan, karena akan menentukan risiko yang akan dihadapi kedepannya.

“Sepandai pandainya tupai melompat, tetap saja dia adalah tupai”, eh maksudnya “pasti dia akan jatuh juga” nah itu adalah pepatah yang menggambarkan bahwa risiko itu tidak bisa 0%, yang artinya risiko harus dikendalikan, kalo tidak yo Bongko (rugi) rek.

Sumber yang Terpercaya

Obrolan ini hanyalah sharing-sharing lho ya rek, jangan dimaksud kalo ini omongan yang bernilai statis alias sak klek, nah dalam pandangan ku atau yang selama ini aku praktikkan dalam menerima proyek, sebuah proyek boleh diterima kalau dia bersumber dari institusi, perusahaan atau perorangan yang sudah temen-temen percaya, ngerti kan maksud ku? ya katakanlah mendapat proyek dari perusahaan yang mayoritas dikenal namanya misal perusahaan travel agent di kota temen-temen, atau proyek dari temen deket dll.

Observasi Singkat

Temen-temen bisa melakukan observasi singkat tentang kebutuhan-kebutuhan apa saja yang diperlukan dalam mengerjakan proyek tersebut, teknologi yang digunakan, besaran/cakupan masalah dll, dari situ temen-temen bisa mendapatkan gambaran secara kasar yang bisa digunakan untuk menilai kapasitas produksi temen-temen. Dari penilaian tersebut temen-temen bisa memutuskan untuk menerima atau menolak, atau bisa saja temen-temen melempar proyek tersebut ke orang lain atau bahkan temen-temen meminta bantuan teman untuk bekerja bersama, ya itu terserah rek, dienak-enak ne aja.

Definisi yang Jelas dan Presisi

Nah di bagian ini nih yang biasanya jeblok atau lemah, dengan tidak adanya definisi yang jelas akan membuat pekerjaan kita menjadi tidak presisi lho rek, bayangin aja kalau client (sebutan untuk orang yang memperkerjakan freelancer) merubah requirement, atau merubah desain UI dengan seenaknya, anytime, opo ora mumet iku rek, apalagi waktu pengerjaan tidak ada penambahan, hmm mumet rek keteteran pasti bisa ngebleng siang malam ini ngerjainya bisa lupa anak istri ini bisa-bisa, makanya di awal harus ada yang namanya Definition of Ready dan Definition of Done. Nah kalau itu terpenuhi Insyaallah pekerjaan akan lebih mudah, karena start dan finish nya sudah jelas.

Kesimpulan

Jangan mudah menerima proyek yang tidak jelas, harus melalui proses analisa yang mendalam, kalau tidak nanti temen-temen bakalan menjadi developer/freelancer gampangan yang suatu saat nanti bisa saja diperlakukan semena-mena oleh client. Buat apa kerja ngos-ngosan kalau duitnya buat mijitin badan karena badan sudah logrek (capek).

Ya ini cuman omongan orang warung lho rek, jadi jangan ditelan mentah-mentah tapi di kunyah-kunya dulu baru dicerna.

Comments